Minggu, 11 Desember 2016

Tugas softskill : KEPEMIMPINAN

1. PENGERTIAN KEPEMIMPINAN
Kepemimpinan menurut Gardner (dalam Wirawan, 2014) adalah proses persuasi atau misalnya dengan mana seorang individu untuk kepemimpinan (tim) menginduksi kelompok untuk mengejar tujuan yang diselenggarakan oleh pemimpin atau bersama oleh pemimpin dan pengikutnya.
Kepemimpinan menurut Burns (dalam Wirawan, 2014) adalah sebagai pemimpin mendorong pengikutnya untuk bertindak untuk tujuan tertentu yang mewakili nilai motivasi - keinginan dan kebutuhan; aspirasi dan harapan-baik pemimpin dan pengikut. Kepemimpinan adalah proses timbal balik dari memobilisasi, oleh orang-orang dengan motif  dan nilai-nilai tertentu, berbagai ekonomi, sumber daya politik dan lainnya, dalam konteks persaingan dan konflik, di lain untuk mewujudkan tujuan secara mandiri atau saling diselenggarakan oleh kedua pemimpin dan pengikut.

2. JENIS JENIS KEPEMIMPINAN
Kepemimpinan Demokratis
Kepemimpinan Paternalistis
Kepemimpinan Maliteristis
Kepemimpinan Karismatis

3. MODEL KEPEMIMPINAN KONTIJENSI FIEDLER

Least Preferred Coworkers (LPC)

Model kepemimpinan kontijensi Fiedler (1964, 1967) menjelaskan bagaimana situasi menengahi hubungan antara efektivitas kepemimpinan dengan ukuran ciri yang disebut nilai LPC rekan kerja yang paling tidak disukai (Yukl, 2005:251).

Teori kontingensi Fiedler menunjukkan hubungan antara orientasi pemimpin atau gaya dan kinerja kelompok yang berbeda di bawah kondisi situasional. Teori ini didasarkan pada penentuan orientasi pemimpin (hubungan atau tugas), unsur-unsur situasi (hubungan pemimpin-anggota, tugas struktur, dan kekuasaan pemimpin posisi), dan orientasi pemimpin yang ditemukan paling efektif karena situasi berubah dari rendah sampai sedang untuk kontrol tinggi. Fiedler menemukan bahwa tugas pemimpin berorientasi lebih efektif dalam situasi kontrol rendah dan moderat dan hubungan manajer berorientasi lebih efektif dalam situasi kontrol moderat.

Daftar pustaka :
Wirawan. (2014). Kepemimpinan: Teori, psikologi, perilaku organisasi, aplikasi dan penelitian. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada
Yukl. 2005. Kepemimpinan Dalam Organisasi. Jakarta : Indeks.


Nama : Gita Rachma
Kelas : 3PA13
NPM : 14514587

Senin, 24 Oktober 2016

softskill : Psikologi Manajemen (Tugas 2)

Job Spesification Manger Logistik
-          Memiliki maksimal 30 tahun
-          Memiliki pendidikan minimal S1
-          Memiliki pengalaman kerja sebelumnya
-          Memiliki keahlian dibidang teknis
-          Mampu menguasai Bahasa Inggris dengan baik
-          Mampu menjalin hubungan dengan baik antar karyawan
-          Memiliki karakter yang supel dan mudah bergaul.
-          Memiliki pemahaman yang baik mengenai distribusi, transportasi dan ekspedisi barang
-          Jujur
-          Ramah
-          Bertanggungjawab



     Job Description Manager Logistik
-          Melalukan pencatatan barang baik dalam pengadaannya dan pendistribusiannya.
-          Memastikan arus keluar dan masuk barang customer sesuai dengan ketentuan yang telah ditetapkan perusahaan.
-          Merekapitulasi penerimaan dan pengeluaran barang dalam suatu perusahaan
-          Melalukan pemesanan barang yang dibutuhkan
-          Melakukan tugas yang berhubungan dengan penjualan barang/jasa yang ditawarkan.
-          Melaksanakan tata penyimpanan barang, menjaga keamanan dan ketertiban secara berkala sesuai yang telah ditetapkan.
-          Menyusun anggaran biaya logistik dan menjaga agar kegiatan operasional dapat berjalan dengan efisien dan efektif sesuai anggaran yang telah dialokasikan.
-          Melakukan kerjasama yang efektif dan konstruktif baik dengan bawahan, atasan dan rekan kerja yang relevan.




Nama : Gita Rachma
Kelas : 3PA13
NPM : 14514587
Mata Kuliah : Psikologi Manajemen

Sofskill : Psikologi Manajemen (tugas 2)

Job Spesification Direksi Personalia
- Pendidikan minimal S2
- Mampu menguasai Bahasa Inggris dengan baik
- Berkelakuan baik
- Berpenampilan rapi
- Memiliki pengetahuan yang luas
- Serta memiliki jiwa kepemimpinan tegas dan baik.
- dapat bertanggungjawab

Job Description Direksi Personalia
-          Membuat sistem komunikasi antar karyawan yang efektif dan efisien
-      Melakukan kegiatan pelatihan dan pembinaan, serta berbagai kegiatan yang berhubungan dengan pengembangan kemampuan keterampilan karyawan.  
-         Membuat kontrak kerja karyawan serta memperbaharui masa berlakunya kontrak kerja.
-   Memberikan sanksi pada karyawan yang melanggar peraturan atau kebijakan perusahaan sebagai bentuk tindakan disiplin.
-   Bertanggung jawab penuh dalam proses rekrutmen karyawan, mulai dari mencari calon karyawan, wawancara hingga seleksi.
-       Bertanggung jawab dalam mengelola dan mengembangkan sumber daya manusia pada suatu perusahaan


Nama : Gita Rachma
Kelas : 3PA13
NPM : 14514587
Mata Kuliah : Psikologi Manajemen

Softskill : Psikologi Manajemen (tugas 2)

Pengertian Job Desc

Job description (jobdesk) atau uraian jabatan/job atau gambaran tugas adalah suatu pernyataan tertulis yang berisi tujuan dari dibentuknya suatu jabatan/tugas, uraian atau gambaran tentang apa yang harus dilakukan oleh sipemegang jabatan, bagaimana suatu pekerjaan dilakukan, alasan-alasan mengapa pekerjaan tersebut dilakukan, hubungan antara suatu posisi tertentu dan posisi lainnya diluar lingkup pekerjaannya dan diluar organisasi (eksternal) sehingga dapat tercapai tujuan unit / bagian kerja dan organisasi / perusahaan secara luas.


Pengertian Job Spesification

Spesifikasi jabatan atau job spesification adalah persyaratan minimal yang harus dipenuhi oleh orang yang menduduki suatu jabatan, agar ia dapat melaksanakan tugas yang dibebankan kepadanya dengan baik dan bertanggung jawab. Seorang karyawan akan mau dan mampu bekerja dengan baik jika ia ditempatkan pada posisi jabatan yang sesuai dengan minat dan kemampuannya serta kebutuhannya dapat terpenuhi dengan ia melakukan pekerjaan itu. Oleh sebab itu, perusahaan harus bisa menempatkan karyawan sesuai dengan minat dan kemampuannya serta memperhatikan kebutuhannya.

Job spesification Internal Audit
-          Berusia maksimal 32 tahun
-          Dapat berkomunikasi yang baik dengan karyawan.
-          Memiliki pengalaman kerja selama minimal 5 tahun
-          Bertanggung jawab
-          Memiliki wawasan yang luas serta kreatif
-          Pendidikan minimum S1 Jurusan Akuntansi
-          Memiliki keahlian khusus di bidang akuntansi dan keuangan
-          Dapat mengoperasikan komputer dengan baik


Job Description Internal Audit
-          Melalukan pemeriksaan yang berhubungan dengna masuk dan keluar soal biaya dari mulai kantor pusat hingga kantor cabang serta semua bagian divisi.
-           Melalukan proses pemeriksaan dan melaporkannya dalam bentuk laporan audit
-          Melalukan koordinasi antar cabang untuk menyiapkan laporan Rugi Laba bagi perusahaan tersebut.
-          Menjalankan proses audit secara teksnis, baik dari segifinancial dan operasional
-       Setelah audit internal dilakukan, hasilnya di evaluasi dengan melakukan koordinasi dengan pihak yang terkait. 


Nama : Gita Rachma
Kelas : 3PA13
NPM : 14514587
Mata Kuliah : Psikologi Manajemen

Softskill : Psikologi Manajemen (tugas 2)

Pengertian Job Desc

Job description (jobdesk) atau uraian jabatan/job atau gambaran tugas adalah suatu pernyataan tertulis yang berisi tujuan dari dibentuknya suatu jabatan/tugas, uraian atau gambaran tentang apa yang harus dilakukan oleh sipemegang jabatan, bagaimana suatu pekerjaan dilakukan, alasan-alasan mengapa pekerjaan tersebut dilakukan, hubungan antara suatu posisi tertentu dan posisi lainnya diluar lingkup pekerjaannya dan diluar organisasi (eksternal) sehingga dapat tercapai tujuan unit / bagian kerja dan organisasi / perusahaan secara luas.


Pengertian Job Spesification

Spesifikasi jabatan atau job spesification adalah persyaratan minimal yang harus dipenuhi oleh orang yang menduduki suatu jabatan, agar ia dapat melaksanakan tugas yang dibebankan kepadanya dengan baik dan bertanggung jawab. Seorang karyawan akan mau dan mampu bekerja dengan baik jika ia ditempatkan pada posisi jabatan yang sesuai dengan minat dan kemampuannya serta kebutuhannya dapat terpenuhi dengan ia melakukan pekerjaan itu. Oleh sebab itu, perusahaan harus bisa menempatkan karyawan sesuai dengan minat dan kemampuannya serta memperhatikan kebutuhannya.

Job spesification Internal Audit
-          Berusia maksimal 32 tahun
-          Dapat berkomunikasi yang baik dengan karyawan.
-          Memiliki pengalaman kerja selama minimal 5 tahun
-          Bertanggung jawab
-          Memiliki wawasan yang luas serta kreatif
-          Pendidikan minimum S1 Jurusan Akuntansi
-          Memiliki keahlian khusus di bidang akuntansi dan keuangan
-          Dapat mengoperasikan komputer dengan baik


Job Description Internal Audit
-          Melalukan pemeriksaan yang berhubungan dengna masuk dan keluar soal biaya dari mulai kantor pusat hingga kantor cabang serta semua bagian divisi.
-           Melalukan proses pemeriksaan dan melaporkannya dalam bentuk laporan audit
-          Melalukan koordinasi antar cabang untuk menyiapkan laporan Rugi Laba bagi perusahaan tersebut.
-          Menjalankan proses audit secara teksnis, baik dari segifinancial dan operasional
-       Setelah audit internal dilakukan, hasilnya di evaluasi dengan melakukan koordinasi dengan pihak yang terkait. 


Nama : Gita Rachma
Kelas : 3PA13
NPM : 14514587
Mata Kuliah : Psikologi Manajemen

Kamis, 29 September 2016

Softskill : Psikologi Manajeman (Tugas 1)

1.      Apa yang dimaksud dengan sumber daya manusia?
Sumber daya manusia adalah manusia yang bekerja di lingkungan suatu organisasi disebut juga personil tenaga kerja, atau karyawan. Sumber daya manusia juga merupakan potensi manusiawi sebagai penggerak organisasi dalam menunjukan eksistensinya, potensi tersebut berfungsi sebagai modal di dalam organisasi bisnis yang dapat diwujudkan dalam potensi nyata. Sumber daya manusia merupakan bagian yang penting keberadaannya dalam suatu perusahaan karena tanpa sumber daya manusia suatu perusahaan tidak akan berjalan dengan lancar dan tidak dapat menghasilkan laba dan menambah nilai perusahaan.

2.      Tugas apa saja yang dilakukan oleh sumber daya manusia?
Funsi sumberdaya manusia adalah untuk meningkatkan produktivitas dan menunjang perusahaabn lebih kompetitif. Fungsi SDM ini tidak hanya tertuju kepada para pekerja tetapi juga tujuan perusahaan. Dalam hal ini tujuannya adalah bagaimana terjadinya produktivitas bagi setiap individu di dalam perusahaan agar nilai produktivitasnya memberikan dampak langsung bagi peningkatab profit perusahaan
Tugas yang dilakukan oleh sumber daya manusia yaitu melakukan komunikasi baik antar karyawan dan antar perusahaan sehingga terjalin kerjasama yang baik demi kelangsungan berjalannya organisasi, mengarahkan perusahan untuk mencapai tujuannya dan merencanakan dan melaksanakan strategi bisnis

3.      Apa itu kepemimpinan?
Menurut Robbert D Stuart (2002: 352) bahwa pemimpin adalah seorang yang diharapkan mempunyai kemampuan untuk mempengaruhi, memberi petunjuk dan juga mampu menentukan individu untuk mencapai tujuanorganisasi. Seiring dengan itu James P. Spillane (2006: 10) menyatakan bahwa pemimpin itu agen perubahan dengan kegiatan mempengaruhi orang-orang lebih daripada pengaruh orang-orang tersebut kepadanya.
Dengan demikian kepemimpinan merupakan salah satu unsur penentu keberhasilan organisasi, terlebih lagi dalam menuju perubahan. kepemimpinan dilakukan oleh seorang pemimpin dan ia mengemban tugas dengan beraktivitas untuk melaksanakan kepemimpinan tersebut. Menjaga koordinasi dan integrasi di dalam organisasi supaya bisa berlangsung dengan manjur.
4.      Apa manfaat kepemimpinan bagi sumber daya manusia
Kepemimpinan adalah sebuah proses mempengaruhi aktivitas kelompok atau karyawan dalam rangka pencapaian tujuan agar berhasil arti kepemimpinan juga bisa diartikan sebagai proses mempengaruhi atau memberi contoh oleh pemimpin terhadap pengikutnya untuk mencapai tujuan dan sasaran
Manfaatnya :
-          Berperan dalam mengambil keputtusan suatu masalah
-          Mengatur jalannya organisasi
-          Menadakan revisi, perubahan, inovasi, pengembangan dan penyempurnaan dalam orhanisasi
-          Mengatasi masalah atau konflik-konflik yang timbul dan mengadakan evaluasi
-          Menentukan cara dan sarana untuk mencapai tujuan
-          Menyemangati karyawanan agar hasil kerjanya baik

Daftar pustaka :
- Leavitt, H. J. 1972. Managerial Psychology . London: The University of Chicago Press.
-  Pustaha: Jurnal Studi Perpustakaan dan Informasi, Vol.4, No.1, Juni 2008
- Nasrudin, Endin. 2010. Psikologi Manajeman. Bandung : CV pustaka setia


Nama : Gita Rachma
Kelas : 3pa13
NPM : 14514587
Mata kuliah : psikologi manajeman

Senin, 20 Juni 2016

Tugas Individu : Kesehatan Mental (softskill)

1.      Temukan kasus yang berkaitan dengan kesehatan mental yang terjadi di indonesia, kemudian di analisis dengan menggunakan teori psikologi?
Bipolar Disorder merupakan kelainan pada otak yang menyebabkan ketidak normalan pergantian mood, energi, level aktivitas, dan kemampuan untuk mengerjakan aktivitas harian. Bipolar memiliki dua kutub, yaitu manik dan depresi. Gangguan ini bersifat episode yang cenderung berulang, menunjukkan suasana perasaan atau mood dan tingkat aktivitas yang terganggu. Seseorang yang mengidap Bipolar Disorder biasanya sering merasa euphoria berlebihan (mania) dan mengalami depresi yang sangat berat. Periode mania dan depresi ini bisa berganti dalam hitungan jam, minggu maupun bulan.Ini semua tergantung masing-masing pengidap. Mood atau keadaan emosi internal merupakan penyebab utama dari gangguan ini.
Kadang penderita memiliki perasaan atau yang bisa disebut sebagai mood meninggi, energi dan aktivitas fisik dan mental meningkat atau episode manik atau hipomanik. Pada waktu lain berupa penurunan mood, energi dan aktivitas dan mental berkurang (episode depresi). Episode manik biasanya mulai dengan tiba-tiba dan berlangsung antara dua minggu sampai lima bulan. Sedangkan depresi cenderung berlangsung lebih lama. Episode hipomanik mempunyai derajat yang lebih ringan daripada manik. Mereka yang mengalami gangguan bipolar ini beralih dari perasaan sangat senang dan gembira ke perasaan sangat sedih atau sebaliknlya. Dua kutub mood tinggi dan rendah, saling bergantian.
Bipolar disorder sering dialami oleh remaja yang beranjak dewasa atau dewasa muda.setidaknya setengah dari kasus dimulai sebelum umur 25 tahun. beberapa orang memiliki gejala - gejalanya bahkan sejak kanak - kanak, sementara beberapa orang sisanya mengalami gejala - gejalanya lebih lama. Bipolar disorder tidak mudah dikenali saat kelainan ini dimulai.gejalanya terlihat seperti masalah - masalah yang berbeda, tidak tampak seperti bagian dari masalah lain yang lebih besar.

Contoh Kasus
Di Indonesia, Public figure menjadi sorotan bagi masyarakat luas termasuk para penggemarnya. Tak heran jika kehidupan pribadi sang public figure menjadi topik hangat yang selalu di bicarakan oleh masyarakat. Termasuk masalah tentang perceraian orang tua yang berdampak pada psikologis si artis tersebut. Ketika seorang public figure dituntut untuk menjadi sosok yang sempurna dalam  karir maupun kehidupan pribadi nya, berbagai macam gangguan psikologis dapat menyerang. Seperti halnya yang terjadi pada beberapa artis yang menderita gangguan mood atau yang lebih dikenal dengan Bipolar Disorder. Pada kasus ini, Bipolar Disorder dialami oleh artis Marshanda. Beberapa bula lalu Marshanda mengalami berbagai macam tekanan dan masalah yang mengakibatkan timbulnya kembali gangguan mood ini. Baru diketaui oleh publik bahwa Marshanda mengidap Bipolar Disorder II sejak tahun 2009.
Akhirnya teka-teki kasus Marshanda yang belakangan mengundang kontroversi terjawab sudah.Ternyata, Marshanda mengaku dirinya mengidap penyakit bipolar disorder II.Pengakuan itu, disampaikan Chacha, saat tampil dalam sebuah bincang-bincang di acara talkshow di salah satu televisi swasta.Malam itu, dalam wawancara tersebut, Chacha terlihat sangat segar. Ia pun mengaku dirinya merasa lebih baik saat ini. Setelah berbincang-bincang, banyak fakta baru yang selama ini menjadi pertanyaan masyarakat.
Saat melakukan wawancara, Marshanda mengatakan dirinya mengidap penyakit Bipolar Disorder II."Menurut dr Richard yang selama ini menangani aku memang aku mengidap Bipolar Disorder II," ucapnya.Mendengar penyakit yang diidapnya, Chacha mengaku kaget. Padahal saat itu, dirinya belum mengetahui apa sebenarnya arti dari penyakit yang diidapnya."Aku belum tahu ya saat itu Bipolar itu apa. Tapi yang jelas saat itu aku sangat kaget sekali dan hanya bisa diam saat itu," Bipolar Disorder IIdiketahuinya saat 2009 lalu. Setelah menjalankan dua kali pemeriksaan oleh dr Richard, Chacha langsung dinyatakan memiliki penyakit tersebut dan menjalani opname.
Sementara itu, Chacha juga kembali mengunggah video youtube terkait penjemputan paksa dirinya ke RS yang diduga oleh sang mama.Dalam video berjudul the unspoken part2  itu, Chacha mengatakan siang hari sebelum penjemputan dirinya sempat dihalang-halangi keluar dari apartemennya oleh pihak kepolisian.Dia mengatakan saat itu dia berniat keluar dari apartemen dengan mobil Aphardnya.Namun, saat hendak keluar dari basement, muncul seorang pria yang mengaku dari pihak kepolisian Tebet yang menghalanginya keluar.“Saat mau keuar dari basement ada bapak-bapak ngetok kaca mobil dan bilang siapa yang ngizinin mobil ini keluar dari sini? “ ujar Chacha.
Kemudian, katanya, Chacha sempat turun dan menanyakan alasan pria tersebut menghalanginya.Dijelaskannya, jika pihak kepolisian mendapatkan laporan dari masyarakat bernama Yanto, yang menurut Chacha adalah kakak dari mamanya.Laporan tersebut, terkait penyelidikan lokasi mobil Alphard Chacha.Dengan alasan tersebut, katanya, kepolisian menghalangi niat kepergian Chacha tersebut.
Teori Psikologi
Gangguan mood atau Bipolar Disorder ini didukung oleh beberapa teori psikologi yang menjelaskan penyebab dasar munculnya gangguan tersebut. Berikut merupakan beberapa teori tersebut :
a)      Teori Psikoanalisis Tentang Depresi
Menurut Freud (1917/ 1950) potensi depresi muncul pada awal masa kanak-kanak. Pada fase oral anak mungkin kurang terlalu terpenuhi kebutuhannya, sehingga ia terfiksasi pada fase ini mengakibatkan individu dependen, low self esteem. Hipotesanya adalah, setelah kehilangan orang yang dicintai, ia mengidentifikasi diri dengan orang tersebut seolah untuk mencegah kehilangan. Lama-lama ia malah marah pada dirinya sendiri, merasa bersalah.
b)      Teori Kognitif Tentang Depresi.
Menurut Teori Depresi Beck (1967) Individu menjadi depresi akibat interpretasi negatif yang bias. Pada waktu kecil/remaja muncul skema negatif akibat kejadian-kejadian buruk ia merasa akan selalu sial/gagal, dipadu dengan bias kognitif muncul triad negatif (pandangan sangat negatif tentang diri, dunia, masa depan). Menurut Teori hopelessness Sejumlah bentuk depresi dianggap sebagai akibat hopelessnessà merasa hasil yang diharapkan takkan pernah muncul, individu tak bisa merubah situasi. Kemungkinan muncul akibat self esteem yang rendah, kecenderungan anggapan bahwa kejadian negatif akan mengakibatkan sejumlah hal negative.
c)      Teori Interpersonal Tentang Depresi
Individu depresi cenderung terbatas jaringan dan dukungan sosialnya mengurangi kemampuan individu mengatasi kejadian negatif, rentan terhadap depresi. Individu depresi berusaha meyakinkan diri bahwa orang lain benar peduli. Namun ketika yakin, rasa puasnya hanya sebentar. Berhubungan dengan konsep diri negatif. Kompetensi sosial yang rendah diperkirakan memunculkan depresi pada anak usia TK. Interpersonal problem solving skill yang rendah dapat meningkatkan depresi pada remaja.
d)     Teori Biologis Tentang Gangguan Mood
Gangguan bipolar merefleksikan adanya gangguan pada sistem motivasional yang disebut dengan behavioral activation system atau BAS. BAS memfasilitasi kemampuan manusia unuk mendekati atau memperoleh reward dari lingkungannya dan ini telah dikaitkan dengan positive emotional states, karakteristik kepribadian seperti ekstrovert, peningkatan energi, dan berkurangnya kebutuhan untuk tidur. Secara biologis, BAS diyakini terkait dengan jalur syaraf dalam otak yang melibatkan dopamine neurotransmitter dan juga terkait dengan perilaku untuk memperoleh reward. Peristiwa kehidupan yang melibatkan pencapaian tujuan atau reward diprediksi meningkatkan simtom mania. Sedangkan peristiwa positif lainnya tidak terkait dengan perubahan pada simtom mania, dan pencapaian tujuan tidak terkait dengan perubahan dalam simtom depresi.Dengan demikian, BAS dan manifestasi perilakunya, yaitu pencapaian tujuan diasosiasikan dengan simtom mania dari gangguan bipolar.
e)      Teori Lingkungan Tentang Gangguan Mood
Bipolar disorder tak hanya dipengaruhi oleh gen saja, tetapi juga didorong oleh faktor lingkungan. Penderita penyakit ini cenderung mengalami faktor pemicu munculnya penyakit yang melibatkan hubungan antar perseorangan atau peristiwa-peristiwa pencapaian tujuan (reward) dalam hidup. Seorang penderita bipolar disorder yang gejalanya mulai muncul saat masa ramaja kemungkinan besar mempunyai riwayat masa kecil yang kurang menyenangkan seperti mengalami banyak kegelisahan atau depresi. Selain penyebab diatas, alkohol, obat-obatan, dan penyakit lain yang diderita juga dapat memicu munculnya bipolar disorder. Di sisi lain, keadaan lingkungan di sekitarnya yang baik dapat mendukung penderita gangguan ini sehingga bisa menjalani kehidupan dengan normal.
Analisis Kasus
Dari kasus diatas, kita mengetahui bahwa Marshanda mengidap Bipolar Disorder 2 yaitu keadaan dimana suatu gangguan mood yg ditentukan oleh pola dari episode-episode depresi namun bukan sepenuhnya episode-episode manic atau campuran. Asumsi ini diperkuat dengan adanya fakta bahwa Marshanda harus minum sejumlah obat untuk mengurangi tingkat gangguan mood nya agar tidak timbul gejala akan kambuh. Namun, karena timbul berbagai masalah yang dihadapi oleh Marshanda beberapa bulan lalu, dari kasus perceraian sampe penjemputan paksa oleh Ibunda nya, hal itu menjadi pemicu gangguan mood ini kembali. Marshanda sendiri mengakui bahwa ia mengidap Bipolar Disorder sejak tahun 2009 yang berarti ia alami pada usia remaja atau sekitar 16 tahun.
Pada kenyataan nya, gangguan mood ini dapat terjadi sejak usia anak-anak maupun usia remaja. Banyak faktor yang dapat menjadi pemicu gangguan mood yang dialami oleh Marshanda seperti  faktor genetis yang diturunkan oleh Orangtua nya lalu faktor depresi yang ia alami sejak perceraian orangtua nya, bullying yang ia terima semasa dibangku sekolah maupun faktor fisiologis (salah satu faktor utama penyebab seseorang mengidap BD adalah karena terganggunya keseimbangan cairan kimia utama di dalam otak seperti hormon norepinephrin, dopamine, dan serotonine). Sebagai contoh, ketika seseorang yang mengalami BD dan kadar dopamine dalam otaknya sedang tinggi, maka saat itu ia akan merasa sangat bersemangat, antusias, dan agresif. Jika memang faktor genetika menjadi salah satu pemicu terjadi nya Bipolar Disorder pada Marshanda, maka akan ada kemungkinan penyakit ini menurut kepada anak perempuan Marshanda, karena gangguan ini lebih sering muncul pada anak perempuan. Dan ketika ibunya mengidap depresi maka secara genetika akan diturunkan kepada putri nya.
Tidak heran ketika kita menyaksikan berbagai macam ekspresi yang ditunjukan oleh Marshanda, karena itu merupakan refleksi dari pola-pola episodic depresi yang dialami oleh Marshanda. Ketika masa-masa sulit pada episode ini terlewati, penderita akan kembali ke kehidupan normalnya. Para penderita Bipolar seperti Marshanda tidak hanya membutuhkan obat-obatan dan pengobatan intensif, namun juga dukungan moral dari keluarga.
2.      Tuliskan pandangan-pandangan ataupun pemahaman anda terkait dengan kesadaran akan kesehatan mental pada masyarakat indonesia! Jika perlu, berikan masukan untuk meningkatkan kesadaran akan kesehatan mental diindonesia.
Di negara yang sedang berkembang, seperti Indonesia isu kesehatan mental masih menjadi topik yang terabaikan. Di Indonesia, stigma terhadap penderita menyebabkan para penderita semakin sulit untuk mendapatkan penanganan yang tepat. Bahkan data dari riset kesehatan dasar menyebutkan bahwa pada tahun 2013 terdapat 56000 penderita yang dipasung karena stigma negatif, kurangnya informasi, dan buruknya fasilitas penanganan. Data lain dari riset kesehatan dasar Indonesia, pada tahun 2007 terdapat sekitar 1 juta orang yang mengalami gangguan jiwa berat dan 19 juta orang yang menderita gangguan jiwa ringan hingga sedang, dengan jumlah yang terus meningkat secara signifikan. Angka – angka tersebut sebenarnya hanyalah puncak gunung es yang menyimpan potensi bahaya laten lain yang lebih besar.
Berdasarkan kenyataan tersebut sudah sepatutnya masyarakat untuk lebih menyadari pentingnya kesehatan mental. Masyarakat Indonesia cenderung menilai negative dan memiliki pandangan stereotip terhadap penderita gangguan mental. Tidak jarang banyak ditemukan penderita gangguan mental yang dipasung atau melakukan pengobatan tradisional yang tidak disertai dengan dasar yang kuat dari psikolog, psikiater atau mental helath care. Hal ini menyebabkan individu yang menderita gangguan mental sulit untuk mendapatkan penanganan yang sesuai sehingga menghambat proses kesembuhan serta adaptasi sosial penderita.
Menurut Profesor Psikologi dari Illinois Institute of Technology, Patrick Corrigan, PsyD, stigma terhadap gangguan mental semakin hari semakin memburuk. Beberapa gangguan mental seperti depresi dan gangguan kecemasan sosial memiliki gejala seperti merasa diri terisolasi dan tidak nyaman apabila bertemu dengan orang lain. Kondisi ini juga diperburuk dengan adanya stereotip negative dari masyarakat yang membuat para penderita gangguan menyal semakin kesepian, terisolasi, serta sulit mendapatkan penanganan yang tepat. Bahkan banyak penderita gangguan mental yang merasa tidak layak untuk hidup dan memilih unutk melukai diri sendiri atau bunuh diri karena masyrakat menginternaisasikan pesan dan bentuk citra diri negative terhadap mereka. Hal ini mengindikasikan bahwa penderita kurang mendapatkan dukungan sosial sehingga lebih memilih untuk mengakhiri hidupnya.
Banyak hal yang masyarakat bisa lakukan untuk mengatasi hal tersebut antara lain:
·         Megurangi adanya pandangan negative terhadap penderita gangguan mental. Masyarakat harus menyadari dan menerima bahwa penderita juga seorang manusia dan berhak mendapatkan perlakuan yang sama selayaknya manusia pada umumnya.
·         Masayarakat juga dapat menumbuhkan sikap lebih peka terhadap anggota keluarganya. Apabila ada asalah satu anggota keluarga yang memiliki indikasi gejala gangguan mental, ada baiknya jika segera ditangani untuk mengantisipasi agar penderita tidak mengalami kondisi yang semakin buruk. Teknologi sudah semakin canggih, kita dapat mencari tahu mengenai gejala gangguan mental melalui internet. Salah satu bentuk kepedulian kita terhadap anggota keliarga adalah dengan mencari dan mengumpulkan informasi terkait dan membantu menyebarkannya ke orang-orang terdekat. Selain itu, menyediakan waktu untuk mendengarkan masalah anggota keluarga dapat meminimalisir agar tidak terjadi gangguan mental.
·         Menyadari bahwa kondisi gangguan metal sama pentngnya dengan kondisi ganguan fisik. Dalam hal ini, pemerintah dapat memberikan sosialisasi dan edukasi mengenai berbagai gangguan mental untuk mengurangi pandangan negative dan stereotip masyarakat terhadap penderita gangguan mental. Selain itu, pemerintah juga dapat memerhatikan fasilitas dan kualitas dalam penanganan terhdap penderita gangguan mental.
·         Adanya pendidikan karakter. Pendidikan karakter dapat diterapkan sejak dini, misalnya semenjak anak duduk di bangku SD. Tujuan pendidikan karakter sendiri adalah untuk menanamkan nilai dalam diri individu dan memperbarui tata kehidupan bersama yang lebih menghargai kebebasan individu. Dalam hal ini pendidikan karakter berperan penting dalam kesehatan mental. pendidikan karakter dapat dijadikan dasar agar individu  memiliki mental yang sehat dan kuat. Apabila pendidikan karakter yang tertanam dalam individu sangat kuat, maka dapat terbentuk individu yang kuat pula. begitu juga sebaliknya. Selain itu, karakter individu yang kuat juga tidak akan menilai penderita gangguan mental secara negatif karena penddikan karakter juga berfungsi dalam penanaman moral individu, sehingga apabila individu memiliki moral yan tinggi mereka tidak akan semudah itu memandang penderita ganggan mental dengan sebelah mata.

Jumat, 25 Maret 2016

Tugas Individu 1 : softskill - kesehatan mental

Depresi
A. Pengertian
Depresi adalah suatu jenis gangguan alam perasaan atau emosi yang disertai komponen psikologik seperti rasa susah, murung, sedih, putus asa, dan tidak bahagia, serta komponen somatik seperti anoreksia, konstipasi, kulit lembab (rasa dingin), tekanan darah dan denyut nadi menurun. Depresi adalah salah satu bentuk gangguan jiwa pada alam perasaan (afektif, mood) (Teddy Hidayat, 2008).
                Depresi adalah gangguan alam perasaan yang berat dan dimanifestasikan dengan gangguan fungsi sosial dan fungsi fisik yang hebat, lama dan menetap pada individu yang bersangkutan. Depresi merupakan reaksi yang normal bila berlangsung dalam jangka pendek dengan adanya faktor pencetus yang jelas, lama  dan dalam depresi sesuai dengan faktor pencetusnya. Depresi merupakan gejala psikotik bila keluhan yang berlangsung tidak sesuai lagi dengan realitas, tidak dapat menilai realitas dan tidak dapat dimengerti orang lain.
B. Proses Terjadinya Masalah
Klien yang mengalami depresi biasanya diawali dari persepsinya yang negatif terhadap stressor. Klien menganggap masalah sebagai sesuatu yang seratus persen buruk. Tidak ada hikmah dan kebaikan dibalik semua masalah yang diterimanya. Misalnya pada saat kakinya fraktur ia sulit untuk menerimanya, padahal hikmahnya ia akan terhindar dari wajib militer, terhindar dari jalan menuju kemaksaiatan dan lebih banyak waktu membaca dirumah dan sebagainya. Hampir semua masalah yang muncul dia anggap negatif. Karena persepsi salah tersebut maka akan menuntut klien untuk berpikir dan bertindak salah . pikiran salah yang mucul adalah “saya sial, saya menderita, saya tidak mampu, tidak ada harapan lagi, semua buruk”, kondisi ini diperburuk karen atidak adanya support system yang adequate seperti keluarga, sahabat, ibu, tetangga, adanya tabungan, terutama keyakinan pada Maha Kuasa. Munculah fase akumulasi stressor dimana stressor lain turut memperburuk keadaan klien. Klien akan merasa tidak berdaya dan akhirnya ada niat untuk menciderai diri dan mengakhiri hidup. Hal ini menjadi pemicu munculnya harga diri rendal yang akan menjadi internal stressor
C. Faktor Penyebab Depresi
Depresi disebabkan oleh banyak faktor antara lain faktor herediter dan genetik, faktor konstitusi, faktor kkepribadian pramorbid, faktor fisik,  faktor psikobiologi, faktor neurologik, faktor biokimia dalam tubuh, faktor keseimbangan elektrolit dan sebagainya. Depresi biasanya dicetuskan oleh trauma fisik seperti penyakit infeksi, pembedahan,kecelakaan, persalinan dan sebagainya serta faktor psikis seperti kehilangan kasih sayang atau harga diri.
D. Tanda dan Gejala
Menurut Tedy Hidayat (2008), depresi ditandai dengan gejala berikut :
1. Kemurungan, kesedihan, kelesuhan, kehilangan gairah hidup, tidak ada semangat dan tidak berdaya
2. Perasaan bersalah atau berdosa, tidak berguna dan putus asa
3. Nafsu makan dan berat badan menurun
4. Sulit konsentrasi dan daya ingat menurun
5. Gangguan tidur (sulit tidur atau tidur berlebihan) disertai mimpi-mimpi tidak menyenangkan seperti mimpi orang yang sudah meninggal
6. Agitasi atau reterdasi motorik (gelisah atau perlambatan gerak motorik)
7. Hilang perasaan senang, semangat dan minat, meninggalkan hobi
8. Kreativitas dan produktivitas menurun
9. Gangguan seksual (libido menurun)
10.Pikiran-pikiran tentang kematian menurun
E. Diagnosa Keperawatan
1. Resiko menciderai diri
2. Gangguan alam perasaan
3. Defisit perawatan diri
4. Gangguan komunikasi verbal
5. Ketidakmampuan melihat sisi positif dari setiap stressor yang dialami
6. Ketidakmampuan mengatur produktivitas dan jadwal harian
F. Rencana Tindakan Keperawatan
1. Klien terlindungi dari perilaku mencederai diri
2. Klien dapat mengarahkan mood-nya lebih baik
3. Klien mampu berupaya untuk memenuhi personal hygiene
4. Klien dapat membina hubungan saling percaya dan inisiatif berkomunikasi
5. Klien dapat meningkatkan harga diri
6. Klien dapat menggunakan dukungan sosial
7. Klien dapat menggunakan koping adaptif dan melihat sisi positif dari masalahnya
8. Klien dapat menggunakan obat dengan benar dan tepat
9. Klien mampu meningkatkan produktivitas dan membuat jadwal harian


daftar pustaka
Yosep, Iyus. 2011. Keperawatan Jiwa. Bandung : Refika Aditama

Nama : Gita Rachma
Kelas : 2PA13
NPM :14514587
Mata kuliah : softskill kesehatan mental