1.
Temukan kasus yang berkaitan dengan kesehatan mental yang terjadi
di indonesia, kemudian di analisis dengan menggunakan teori psikologi?
Bipolar Disorder merupakan kelainan pada otak yang menyebabkan
ketidak normalan pergantian mood, energi, level aktivitas, dan kemampuan untuk
mengerjakan aktivitas harian. Bipolar memiliki dua kutub, yaitu manik dan
depresi. Gangguan ini bersifat episode yang cenderung berulang, menunjukkan suasana
perasaan atau mood dan tingkat aktivitas yang terganggu. Seseorang yang
mengidap Bipolar Disorder biasanya sering merasa euphoria berlebihan (mania)
dan mengalami depresi yang sangat berat. Periode mania dan depresi ini bisa
berganti dalam hitungan jam, minggu maupun bulan.Ini semua tergantung
masing-masing pengidap. Mood atau keadaan emosi internal merupakan penyebab
utama dari gangguan ini.
Kadang penderita memiliki perasaan atau yang bisa disebut sebagai
mood meninggi, energi dan aktivitas fisik dan mental meningkat atau episode
manik atau hipomanik. Pada waktu lain berupa penurunan mood, energi dan
aktivitas dan mental berkurang (episode depresi). Episode manik biasanya mulai
dengan tiba-tiba dan berlangsung antara dua minggu sampai lima bulan. Sedangkan
depresi cenderung berlangsung lebih lama. Episode hipomanik mempunyai derajat
yang lebih ringan daripada manik. Mereka yang mengalami gangguan bipolar ini
beralih dari perasaan sangat senang dan gembira ke perasaan sangat sedih atau
sebaliknlya. Dua kutub mood tinggi dan rendah, saling bergantian.
Bipolar disorder sering dialami oleh remaja yang beranjak dewasa
atau dewasa muda.setidaknya setengah dari kasus dimulai sebelum umur 25 tahun. beberapa
orang memiliki gejala - gejalanya bahkan sejak kanak - kanak, sementara
beberapa orang sisanya mengalami gejala - gejalanya lebih lama. Bipolar
disorder tidak mudah dikenali saat kelainan ini dimulai.gejalanya terlihat
seperti masalah - masalah yang berbeda, tidak tampak seperti bagian dari
masalah lain yang lebih besar.
Contoh Kasus
Di Indonesia, Public figure menjadi sorotan bagi masyarakat luas
termasuk para penggemarnya. Tak heran jika kehidupan pribadi sang public figure
menjadi topik hangat yang selalu di bicarakan oleh masyarakat. Termasuk masalah
tentang perceraian orang tua yang berdampak pada psikologis si artis tersebut.
Ketika seorang public figure dituntut untuk menjadi sosok yang sempurna
dalam karir maupun kehidupan pribadi
nya, berbagai macam gangguan psikologis dapat menyerang. Seperti halnya yang terjadi
pada beberapa artis yang menderita gangguan mood atau yang lebih dikenal dengan
Bipolar Disorder. Pada kasus ini, Bipolar Disorder dialami oleh artis
Marshanda. Beberapa bula lalu Marshanda mengalami berbagai macam tekanan dan
masalah yang mengakibatkan timbulnya kembali gangguan mood ini. Baru diketaui
oleh publik bahwa Marshanda mengidap Bipolar Disorder II sejak tahun 2009.
Akhirnya
teka-teki kasus Marshanda yang belakangan mengundang kontroversi terjawab
sudah.Ternyata, Marshanda mengaku dirinya mengidap penyakit bipolar disorder
II.Pengakuan itu, disampaikan Chacha, saat tampil dalam sebuah bincang-bincang
di acara talkshow di salah satu televisi swasta.Malam itu, dalam wawancara
tersebut, Chacha terlihat sangat segar. Ia pun mengaku dirinya merasa lebih
baik saat ini. Setelah berbincang-bincang, banyak fakta baru yang selama ini
menjadi pertanyaan masyarakat.
Saat
melakukan wawancara, Marshanda mengatakan dirinya mengidap penyakit Bipolar
Disorder II."Menurut dr Richard yang selama ini menangani aku memang aku
mengidap Bipolar Disorder II," ucapnya.Mendengar penyakit yang diidapnya,
Chacha mengaku kaget. Padahal saat itu, dirinya belum mengetahui apa sebenarnya
arti dari penyakit yang diidapnya."Aku belum tahu ya saat itu Bipolar itu
apa. Tapi yang jelas saat itu aku sangat kaget sekali dan hanya bisa diam saat
itu," Bipolar Disorder IIdiketahuinya saat 2009 lalu. Setelah menjalankan
dua kali pemeriksaan oleh dr Richard, Chacha langsung dinyatakan memiliki
penyakit tersebut dan menjalani opname.
Sementara
itu, Chacha juga kembali mengunggah video youtube terkait penjemputan paksa
dirinya ke RS yang diduga oleh sang mama.Dalam video berjudul the unspoken
part2 itu, Chacha mengatakan siang hari
sebelum penjemputan dirinya sempat dihalang-halangi keluar dari apartemennya
oleh pihak kepolisian.Dia mengatakan saat itu dia berniat keluar dari apartemen
dengan mobil Aphardnya.Namun, saat hendak keluar dari basement, muncul seorang
pria yang mengaku dari pihak kepolisian Tebet yang menghalanginya keluar.“Saat
mau keuar dari basement ada bapak-bapak ngetok kaca mobil dan bilang siapa yang
ngizinin mobil ini keluar dari sini? “ ujar Chacha.
Kemudian, katanya, Chacha sempat turun dan menanyakan alasan pria
tersebut menghalanginya.Dijelaskannya, jika pihak kepolisian mendapatkan
laporan dari masyarakat bernama Yanto, yang menurut Chacha adalah kakak dari
mamanya.Laporan tersebut, terkait penyelidikan lokasi mobil Alphard
Chacha.Dengan alasan tersebut, katanya, kepolisian menghalangi niat kepergian
Chacha tersebut.
Teori Psikologi
Gangguan mood atau Bipolar Disorder ini didukung oleh beberapa
teori psikologi yang menjelaskan penyebab dasar munculnya gangguan tersebut.
Berikut merupakan beberapa teori tersebut :
a)
Teori
Psikoanalisis Tentang Depresi
Menurut Freud (1917/ 1950) potensi depresi muncul pada awal masa
kanak-kanak. Pada fase oral anak mungkin kurang terlalu terpenuhi kebutuhannya,
sehingga ia terfiksasi pada fase ini mengakibatkan individu dependen, low self
esteem. Hipotesanya adalah, setelah kehilangan orang yang dicintai, ia
mengidentifikasi diri dengan orang tersebut seolah untuk mencegah kehilangan.
Lama-lama ia malah marah pada dirinya sendiri, merasa bersalah.
b)
Teori
Kognitif Tentang Depresi.
Menurut Teori Depresi Beck (1967) Individu menjadi depresi akibat
interpretasi negatif yang bias. Pada waktu kecil/remaja muncul skema negatif
akibat kejadian-kejadian buruk ia merasa akan selalu sial/gagal, dipadu dengan
bias kognitif muncul triad negatif (pandangan sangat negatif tentang diri,
dunia, masa depan). Menurut Teori hopelessness Sejumlah bentuk depresi dianggap
sebagai akibat hopelessnessà merasa hasil yang diharapkan takkan pernah muncul,
individu tak bisa merubah situasi. Kemungkinan muncul akibat self esteem yang
rendah, kecenderungan anggapan bahwa kejadian negatif akan mengakibatkan
sejumlah hal negative.
c)
Teori
Interpersonal Tentang Depresi
Individu depresi cenderung terbatas jaringan dan dukungan sosialnya
mengurangi kemampuan individu mengatasi kejadian negatif, rentan terhadap
depresi. Individu depresi berusaha meyakinkan diri bahwa orang lain benar
peduli. Namun ketika yakin, rasa puasnya hanya sebentar. Berhubungan dengan
konsep diri negatif. Kompetensi sosial yang rendah diperkirakan memunculkan
depresi pada anak usia TK. Interpersonal problem solving skill yang rendah
dapat meningkatkan depresi pada remaja.
d)
Teori
Biologis Tentang Gangguan Mood
Gangguan bipolar merefleksikan adanya gangguan pada sistem
motivasional yang disebut dengan behavioral activation system atau BAS. BAS
memfasilitasi kemampuan manusia unuk mendekati atau memperoleh reward dari
lingkungannya dan ini telah dikaitkan dengan positive emotional states,
karakteristik kepribadian seperti ekstrovert, peningkatan energi, dan
berkurangnya kebutuhan untuk tidur. Secara biologis, BAS diyakini terkait
dengan jalur syaraf dalam otak yang melibatkan dopamine neurotransmitter dan
juga terkait dengan perilaku untuk memperoleh reward. Peristiwa kehidupan yang
melibatkan pencapaian tujuan atau reward diprediksi meningkatkan simtom mania.
Sedangkan peristiwa positif lainnya tidak terkait dengan perubahan pada simtom
mania, dan pencapaian tujuan tidak terkait dengan perubahan dalam simtom
depresi.Dengan demikian, BAS dan manifestasi perilakunya, yaitu pencapaian
tujuan diasosiasikan dengan simtom mania dari gangguan bipolar.
e)
Teori
Lingkungan Tentang Gangguan Mood
Bipolar disorder tak hanya dipengaruhi oleh gen saja, tetapi juga
didorong oleh faktor lingkungan. Penderita penyakit ini cenderung mengalami
faktor pemicu munculnya penyakit yang melibatkan hubungan antar perseorangan
atau peristiwa-peristiwa pencapaian tujuan (reward) dalam hidup. Seorang
penderita bipolar disorder yang gejalanya mulai muncul saat masa ramaja
kemungkinan besar mempunyai riwayat masa kecil yang kurang menyenangkan seperti
mengalami banyak kegelisahan atau depresi. Selain penyebab diatas, alkohol,
obat-obatan, dan penyakit lain yang diderita juga dapat memicu munculnya
bipolar disorder. Di sisi lain, keadaan lingkungan di sekitarnya yang baik
dapat mendukung penderita gangguan ini sehingga bisa menjalani kehidupan dengan
normal.
Analisis Kasus
Dari
kasus diatas, kita mengetahui bahwa Marshanda mengidap Bipolar Disorder 2 yaitu
keadaan dimana suatu gangguan mood yg ditentukan oleh pola dari episode-episode
depresi namun bukan sepenuhnya episode-episode manic atau campuran. Asumsi ini
diperkuat dengan adanya fakta bahwa Marshanda harus minum sejumlah obat untuk
mengurangi tingkat gangguan mood nya agar tidak timbul gejala akan kambuh.
Namun, karena timbul berbagai masalah yang dihadapi oleh Marshanda beberapa
bulan lalu, dari kasus perceraian sampe penjemputan paksa oleh Ibunda nya, hal
itu menjadi pemicu gangguan mood ini kembali. Marshanda sendiri mengakui bahwa
ia mengidap Bipolar Disorder sejak tahun 2009 yang berarti ia alami pada usia remaja
atau sekitar 16 tahun.
Pada
kenyataan nya, gangguan mood ini dapat terjadi sejak usia anak-anak maupun usia
remaja. Banyak faktor yang dapat menjadi pemicu gangguan mood yang dialami oleh
Marshanda seperti faktor genetis yang
diturunkan oleh Orangtua nya lalu faktor depresi yang ia alami sejak perceraian
orangtua nya, bullying yang ia terima semasa dibangku sekolah maupun faktor
fisiologis (salah satu faktor utama penyebab seseorang mengidap BD adalah
karena terganggunya keseimbangan cairan kimia utama di dalam otak seperti
hormon norepinephrin, dopamine, dan serotonine). Sebagai contoh, ketika
seseorang yang mengalami BD dan kadar dopamine dalam otaknya sedang tinggi,
maka saat itu ia akan merasa sangat bersemangat, antusias, dan agresif. Jika
memang faktor genetika menjadi salah satu pemicu terjadi nya Bipolar Disorder
pada Marshanda, maka akan ada kemungkinan penyakit ini menurut kepada anak
perempuan Marshanda, karena gangguan ini lebih sering muncul pada anak
perempuan. Dan ketika ibunya mengidap depresi maka secara genetika akan
diturunkan kepada putri nya.
Tidak heran ketika kita menyaksikan berbagai macam ekspresi yang
ditunjukan oleh Marshanda, karena itu merupakan refleksi dari pola-pola
episodic depresi yang dialami oleh Marshanda. Ketika masa-masa sulit pada
episode ini terlewati, penderita akan kembali ke kehidupan normalnya. Para
penderita Bipolar seperti Marshanda tidak hanya membutuhkan obat-obatan dan
pengobatan intensif, namun juga dukungan moral dari keluarga.
2.
Tuliskan pandangan-pandangan ataupun pemahaman anda terkait dengan
kesadaran akan kesehatan mental pada masyarakat indonesia! Jika perlu, berikan
masukan untuk meningkatkan kesadaran akan kesehatan mental diindonesia.
Di
negara yang sedang berkembang, seperti Indonesia isu kesehatan mental masih
menjadi topik yang terabaikan. Di Indonesia, stigma terhadap penderita
menyebabkan para penderita semakin sulit untuk mendapatkan penanganan yang
tepat. Bahkan data dari riset kesehatan dasar menyebutkan bahwa pada tahun 2013
terdapat 56000 penderita yang dipasung karena stigma negatif, kurangnya
informasi, dan buruknya fasilitas penanganan. Data lain dari riset kesehatan
dasar Indonesia, pada tahun 2007 terdapat sekitar 1 juta orang yang mengalami
gangguan jiwa berat dan 19 juta orang yang menderita gangguan jiwa ringan
hingga sedang, dengan jumlah yang terus meningkat secara signifikan. Angka –
angka tersebut sebenarnya hanyalah puncak gunung es yang menyimpan potensi
bahaya laten lain yang lebih besar.
Berdasarkan
kenyataan tersebut sudah sepatutnya masyarakat untuk lebih menyadari pentingnya
kesehatan mental. Masyarakat Indonesia cenderung menilai negative dan memiliki
pandangan stereotip terhadap penderita gangguan mental. Tidak jarang banyak
ditemukan penderita gangguan mental yang dipasung atau melakukan pengobatan
tradisional yang tidak disertai dengan dasar yang kuat dari psikolog, psikiater
atau mental helath care. Hal ini menyebabkan individu yang menderita gangguan
mental sulit untuk mendapatkan penanganan yang sesuai sehingga menghambat
proses kesembuhan serta adaptasi sosial penderita.
Menurut
Profesor Psikologi dari Illinois Institute of Technology, Patrick Corrigan,
PsyD, stigma terhadap gangguan mental semakin hari semakin memburuk. Beberapa gangguan
mental seperti depresi dan gangguan kecemasan sosial memiliki gejala seperti
merasa diri terisolasi dan tidak nyaman apabila bertemu dengan orang lain.
Kondisi ini juga diperburuk dengan adanya stereotip negative dari masyarakat
yang membuat para penderita gangguan menyal semakin kesepian, terisolasi, serta
sulit mendapatkan penanganan yang tepat. Bahkan banyak penderita gangguan
mental yang merasa tidak layak untuk hidup dan memilih unutk melukai diri
sendiri atau bunuh diri karena masyrakat menginternaisasikan pesan dan bentuk
citra diri negative terhadap mereka. Hal ini mengindikasikan bahwa penderita
kurang mendapatkan dukungan sosial sehingga lebih memilih untuk mengakhiri
hidupnya.
Banyak
hal yang masyarakat bisa lakukan untuk mengatasi hal tersebut antara lain:
·
Megurangi
adanya pandangan negative terhadap penderita gangguan mental. Masyarakat harus
menyadari dan menerima bahwa penderita juga seorang manusia dan berhak
mendapatkan perlakuan yang sama selayaknya manusia pada umumnya.
·
Masayarakat
juga dapat menumbuhkan sikap lebih peka terhadap anggota keluarganya. Apabila
ada asalah satu anggota keluarga yang memiliki indikasi gejala gangguan mental,
ada baiknya jika segera ditangani untuk mengantisipasi agar penderita tidak
mengalami kondisi yang semakin buruk. Teknologi sudah semakin canggih, kita
dapat mencari tahu mengenai gejala gangguan mental melalui internet. Salah satu
bentuk kepedulian kita terhadap anggota keliarga adalah dengan mencari dan
mengumpulkan informasi terkait dan membantu menyebarkannya ke orang-orang
terdekat. Selain itu, menyediakan waktu untuk mendengarkan masalah anggota
keluarga dapat meminimalisir agar tidak terjadi gangguan mental.
·
Menyadari
bahwa kondisi gangguan metal sama pentngnya dengan kondisi ganguan fisik. Dalam
hal ini, pemerintah dapat memberikan sosialisasi dan edukasi mengenai berbagai
gangguan mental untuk mengurangi pandangan negative dan stereotip masyarakat
terhadap penderita gangguan mental. Selain itu, pemerintah juga dapat
memerhatikan fasilitas dan kualitas dalam penanganan terhdap penderita gangguan
mental.
·
Adanya
pendidikan karakter. Pendidikan karakter dapat diterapkan sejak dini, misalnya
semenjak anak duduk di bangku SD. Tujuan pendidikan karakter sendiri adalah
untuk menanamkan nilai dalam diri individu dan memperbarui tata kehidupan
bersama yang lebih menghargai kebebasan individu. Dalam hal ini pendidikan
karakter berperan penting dalam kesehatan mental. pendidikan karakter dapat
dijadikan dasar agar individu memiliki
mental yang sehat dan kuat. Apabila pendidikan karakter yang tertanam dalam
individu sangat kuat, maka dapat terbentuk individu yang kuat pula. begitu juga
sebaliknya. Selain itu, karakter individu yang kuat juga tidak akan menilai
penderita gangguan mental secara negatif karena penddikan karakter juga
berfungsi dalam penanaman moral individu, sehingga apabila individu memiliki
moral yan tinggi mereka tidak akan semudah itu memandang penderita ganggan
mental dengan sebelah mata.