Senin, 20 Juni 2016

Tugas Individu : Kesehatan Mental (softskill)

1.      Temukan kasus yang berkaitan dengan kesehatan mental yang terjadi di indonesia, kemudian di analisis dengan menggunakan teori psikologi?
Bipolar Disorder merupakan kelainan pada otak yang menyebabkan ketidak normalan pergantian mood, energi, level aktivitas, dan kemampuan untuk mengerjakan aktivitas harian. Bipolar memiliki dua kutub, yaitu manik dan depresi. Gangguan ini bersifat episode yang cenderung berulang, menunjukkan suasana perasaan atau mood dan tingkat aktivitas yang terganggu. Seseorang yang mengidap Bipolar Disorder biasanya sering merasa euphoria berlebihan (mania) dan mengalami depresi yang sangat berat. Periode mania dan depresi ini bisa berganti dalam hitungan jam, minggu maupun bulan.Ini semua tergantung masing-masing pengidap. Mood atau keadaan emosi internal merupakan penyebab utama dari gangguan ini.
Kadang penderita memiliki perasaan atau yang bisa disebut sebagai mood meninggi, energi dan aktivitas fisik dan mental meningkat atau episode manik atau hipomanik. Pada waktu lain berupa penurunan mood, energi dan aktivitas dan mental berkurang (episode depresi). Episode manik biasanya mulai dengan tiba-tiba dan berlangsung antara dua minggu sampai lima bulan. Sedangkan depresi cenderung berlangsung lebih lama. Episode hipomanik mempunyai derajat yang lebih ringan daripada manik. Mereka yang mengalami gangguan bipolar ini beralih dari perasaan sangat senang dan gembira ke perasaan sangat sedih atau sebaliknlya. Dua kutub mood tinggi dan rendah, saling bergantian.
Bipolar disorder sering dialami oleh remaja yang beranjak dewasa atau dewasa muda.setidaknya setengah dari kasus dimulai sebelum umur 25 tahun. beberapa orang memiliki gejala - gejalanya bahkan sejak kanak - kanak, sementara beberapa orang sisanya mengalami gejala - gejalanya lebih lama. Bipolar disorder tidak mudah dikenali saat kelainan ini dimulai.gejalanya terlihat seperti masalah - masalah yang berbeda, tidak tampak seperti bagian dari masalah lain yang lebih besar.

Contoh Kasus
Di Indonesia, Public figure menjadi sorotan bagi masyarakat luas termasuk para penggemarnya. Tak heran jika kehidupan pribadi sang public figure menjadi topik hangat yang selalu di bicarakan oleh masyarakat. Termasuk masalah tentang perceraian orang tua yang berdampak pada psikologis si artis tersebut. Ketika seorang public figure dituntut untuk menjadi sosok yang sempurna dalam  karir maupun kehidupan pribadi nya, berbagai macam gangguan psikologis dapat menyerang. Seperti halnya yang terjadi pada beberapa artis yang menderita gangguan mood atau yang lebih dikenal dengan Bipolar Disorder. Pada kasus ini, Bipolar Disorder dialami oleh artis Marshanda. Beberapa bula lalu Marshanda mengalami berbagai macam tekanan dan masalah yang mengakibatkan timbulnya kembali gangguan mood ini. Baru diketaui oleh publik bahwa Marshanda mengidap Bipolar Disorder II sejak tahun 2009.
Akhirnya teka-teki kasus Marshanda yang belakangan mengundang kontroversi terjawab sudah.Ternyata, Marshanda mengaku dirinya mengidap penyakit bipolar disorder II.Pengakuan itu, disampaikan Chacha, saat tampil dalam sebuah bincang-bincang di acara talkshow di salah satu televisi swasta.Malam itu, dalam wawancara tersebut, Chacha terlihat sangat segar. Ia pun mengaku dirinya merasa lebih baik saat ini. Setelah berbincang-bincang, banyak fakta baru yang selama ini menjadi pertanyaan masyarakat.
Saat melakukan wawancara, Marshanda mengatakan dirinya mengidap penyakit Bipolar Disorder II."Menurut dr Richard yang selama ini menangani aku memang aku mengidap Bipolar Disorder II," ucapnya.Mendengar penyakit yang diidapnya, Chacha mengaku kaget. Padahal saat itu, dirinya belum mengetahui apa sebenarnya arti dari penyakit yang diidapnya."Aku belum tahu ya saat itu Bipolar itu apa. Tapi yang jelas saat itu aku sangat kaget sekali dan hanya bisa diam saat itu," Bipolar Disorder IIdiketahuinya saat 2009 lalu. Setelah menjalankan dua kali pemeriksaan oleh dr Richard, Chacha langsung dinyatakan memiliki penyakit tersebut dan menjalani opname.
Sementara itu, Chacha juga kembali mengunggah video youtube terkait penjemputan paksa dirinya ke RS yang diduga oleh sang mama.Dalam video berjudul the unspoken part2  itu, Chacha mengatakan siang hari sebelum penjemputan dirinya sempat dihalang-halangi keluar dari apartemennya oleh pihak kepolisian.Dia mengatakan saat itu dia berniat keluar dari apartemen dengan mobil Aphardnya.Namun, saat hendak keluar dari basement, muncul seorang pria yang mengaku dari pihak kepolisian Tebet yang menghalanginya keluar.“Saat mau keuar dari basement ada bapak-bapak ngetok kaca mobil dan bilang siapa yang ngizinin mobil ini keluar dari sini? “ ujar Chacha.
Kemudian, katanya, Chacha sempat turun dan menanyakan alasan pria tersebut menghalanginya.Dijelaskannya, jika pihak kepolisian mendapatkan laporan dari masyarakat bernama Yanto, yang menurut Chacha adalah kakak dari mamanya.Laporan tersebut, terkait penyelidikan lokasi mobil Alphard Chacha.Dengan alasan tersebut, katanya, kepolisian menghalangi niat kepergian Chacha tersebut.
Teori Psikologi
Gangguan mood atau Bipolar Disorder ini didukung oleh beberapa teori psikologi yang menjelaskan penyebab dasar munculnya gangguan tersebut. Berikut merupakan beberapa teori tersebut :
a)      Teori Psikoanalisis Tentang Depresi
Menurut Freud (1917/ 1950) potensi depresi muncul pada awal masa kanak-kanak. Pada fase oral anak mungkin kurang terlalu terpenuhi kebutuhannya, sehingga ia terfiksasi pada fase ini mengakibatkan individu dependen, low self esteem. Hipotesanya adalah, setelah kehilangan orang yang dicintai, ia mengidentifikasi diri dengan orang tersebut seolah untuk mencegah kehilangan. Lama-lama ia malah marah pada dirinya sendiri, merasa bersalah.
b)      Teori Kognitif Tentang Depresi.
Menurut Teori Depresi Beck (1967) Individu menjadi depresi akibat interpretasi negatif yang bias. Pada waktu kecil/remaja muncul skema negatif akibat kejadian-kejadian buruk ia merasa akan selalu sial/gagal, dipadu dengan bias kognitif muncul triad negatif (pandangan sangat negatif tentang diri, dunia, masa depan). Menurut Teori hopelessness Sejumlah bentuk depresi dianggap sebagai akibat hopelessnessà merasa hasil yang diharapkan takkan pernah muncul, individu tak bisa merubah situasi. Kemungkinan muncul akibat self esteem yang rendah, kecenderungan anggapan bahwa kejadian negatif akan mengakibatkan sejumlah hal negative.
c)      Teori Interpersonal Tentang Depresi
Individu depresi cenderung terbatas jaringan dan dukungan sosialnya mengurangi kemampuan individu mengatasi kejadian negatif, rentan terhadap depresi. Individu depresi berusaha meyakinkan diri bahwa orang lain benar peduli. Namun ketika yakin, rasa puasnya hanya sebentar. Berhubungan dengan konsep diri negatif. Kompetensi sosial yang rendah diperkirakan memunculkan depresi pada anak usia TK. Interpersonal problem solving skill yang rendah dapat meningkatkan depresi pada remaja.
d)     Teori Biologis Tentang Gangguan Mood
Gangguan bipolar merefleksikan adanya gangguan pada sistem motivasional yang disebut dengan behavioral activation system atau BAS. BAS memfasilitasi kemampuan manusia unuk mendekati atau memperoleh reward dari lingkungannya dan ini telah dikaitkan dengan positive emotional states, karakteristik kepribadian seperti ekstrovert, peningkatan energi, dan berkurangnya kebutuhan untuk tidur. Secara biologis, BAS diyakini terkait dengan jalur syaraf dalam otak yang melibatkan dopamine neurotransmitter dan juga terkait dengan perilaku untuk memperoleh reward. Peristiwa kehidupan yang melibatkan pencapaian tujuan atau reward diprediksi meningkatkan simtom mania. Sedangkan peristiwa positif lainnya tidak terkait dengan perubahan pada simtom mania, dan pencapaian tujuan tidak terkait dengan perubahan dalam simtom depresi.Dengan demikian, BAS dan manifestasi perilakunya, yaitu pencapaian tujuan diasosiasikan dengan simtom mania dari gangguan bipolar.
e)      Teori Lingkungan Tentang Gangguan Mood
Bipolar disorder tak hanya dipengaruhi oleh gen saja, tetapi juga didorong oleh faktor lingkungan. Penderita penyakit ini cenderung mengalami faktor pemicu munculnya penyakit yang melibatkan hubungan antar perseorangan atau peristiwa-peristiwa pencapaian tujuan (reward) dalam hidup. Seorang penderita bipolar disorder yang gejalanya mulai muncul saat masa ramaja kemungkinan besar mempunyai riwayat masa kecil yang kurang menyenangkan seperti mengalami banyak kegelisahan atau depresi. Selain penyebab diatas, alkohol, obat-obatan, dan penyakit lain yang diderita juga dapat memicu munculnya bipolar disorder. Di sisi lain, keadaan lingkungan di sekitarnya yang baik dapat mendukung penderita gangguan ini sehingga bisa menjalani kehidupan dengan normal.
Analisis Kasus
Dari kasus diatas, kita mengetahui bahwa Marshanda mengidap Bipolar Disorder 2 yaitu keadaan dimana suatu gangguan mood yg ditentukan oleh pola dari episode-episode depresi namun bukan sepenuhnya episode-episode manic atau campuran. Asumsi ini diperkuat dengan adanya fakta bahwa Marshanda harus minum sejumlah obat untuk mengurangi tingkat gangguan mood nya agar tidak timbul gejala akan kambuh. Namun, karena timbul berbagai masalah yang dihadapi oleh Marshanda beberapa bulan lalu, dari kasus perceraian sampe penjemputan paksa oleh Ibunda nya, hal itu menjadi pemicu gangguan mood ini kembali. Marshanda sendiri mengakui bahwa ia mengidap Bipolar Disorder sejak tahun 2009 yang berarti ia alami pada usia remaja atau sekitar 16 tahun.
Pada kenyataan nya, gangguan mood ini dapat terjadi sejak usia anak-anak maupun usia remaja. Banyak faktor yang dapat menjadi pemicu gangguan mood yang dialami oleh Marshanda seperti  faktor genetis yang diturunkan oleh Orangtua nya lalu faktor depresi yang ia alami sejak perceraian orangtua nya, bullying yang ia terima semasa dibangku sekolah maupun faktor fisiologis (salah satu faktor utama penyebab seseorang mengidap BD adalah karena terganggunya keseimbangan cairan kimia utama di dalam otak seperti hormon norepinephrin, dopamine, dan serotonine). Sebagai contoh, ketika seseorang yang mengalami BD dan kadar dopamine dalam otaknya sedang tinggi, maka saat itu ia akan merasa sangat bersemangat, antusias, dan agresif. Jika memang faktor genetika menjadi salah satu pemicu terjadi nya Bipolar Disorder pada Marshanda, maka akan ada kemungkinan penyakit ini menurut kepada anak perempuan Marshanda, karena gangguan ini lebih sering muncul pada anak perempuan. Dan ketika ibunya mengidap depresi maka secara genetika akan diturunkan kepada putri nya.
Tidak heran ketika kita menyaksikan berbagai macam ekspresi yang ditunjukan oleh Marshanda, karena itu merupakan refleksi dari pola-pola episodic depresi yang dialami oleh Marshanda. Ketika masa-masa sulit pada episode ini terlewati, penderita akan kembali ke kehidupan normalnya. Para penderita Bipolar seperti Marshanda tidak hanya membutuhkan obat-obatan dan pengobatan intensif, namun juga dukungan moral dari keluarga.
2.      Tuliskan pandangan-pandangan ataupun pemahaman anda terkait dengan kesadaran akan kesehatan mental pada masyarakat indonesia! Jika perlu, berikan masukan untuk meningkatkan kesadaran akan kesehatan mental diindonesia.
Di negara yang sedang berkembang, seperti Indonesia isu kesehatan mental masih menjadi topik yang terabaikan. Di Indonesia, stigma terhadap penderita menyebabkan para penderita semakin sulit untuk mendapatkan penanganan yang tepat. Bahkan data dari riset kesehatan dasar menyebutkan bahwa pada tahun 2013 terdapat 56000 penderita yang dipasung karena stigma negatif, kurangnya informasi, dan buruknya fasilitas penanganan. Data lain dari riset kesehatan dasar Indonesia, pada tahun 2007 terdapat sekitar 1 juta orang yang mengalami gangguan jiwa berat dan 19 juta orang yang menderita gangguan jiwa ringan hingga sedang, dengan jumlah yang terus meningkat secara signifikan. Angka – angka tersebut sebenarnya hanyalah puncak gunung es yang menyimpan potensi bahaya laten lain yang lebih besar.
Berdasarkan kenyataan tersebut sudah sepatutnya masyarakat untuk lebih menyadari pentingnya kesehatan mental. Masyarakat Indonesia cenderung menilai negative dan memiliki pandangan stereotip terhadap penderita gangguan mental. Tidak jarang banyak ditemukan penderita gangguan mental yang dipasung atau melakukan pengobatan tradisional yang tidak disertai dengan dasar yang kuat dari psikolog, psikiater atau mental helath care. Hal ini menyebabkan individu yang menderita gangguan mental sulit untuk mendapatkan penanganan yang sesuai sehingga menghambat proses kesembuhan serta adaptasi sosial penderita.
Menurut Profesor Psikologi dari Illinois Institute of Technology, Patrick Corrigan, PsyD, stigma terhadap gangguan mental semakin hari semakin memburuk. Beberapa gangguan mental seperti depresi dan gangguan kecemasan sosial memiliki gejala seperti merasa diri terisolasi dan tidak nyaman apabila bertemu dengan orang lain. Kondisi ini juga diperburuk dengan adanya stereotip negative dari masyarakat yang membuat para penderita gangguan menyal semakin kesepian, terisolasi, serta sulit mendapatkan penanganan yang tepat. Bahkan banyak penderita gangguan mental yang merasa tidak layak untuk hidup dan memilih unutk melukai diri sendiri atau bunuh diri karena masyrakat menginternaisasikan pesan dan bentuk citra diri negative terhadap mereka. Hal ini mengindikasikan bahwa penderita kurang mendapatkan dukungan sosial sehingga lebih memilih untuk mengakhiri hidupnya.
Banyak hal yang masyarakat bisa lakukan untuk mengatasi hal tersebut antara lain:
·         Megurangi adanya pandangan negative terhadap penderita gangguan mental. Masyarakat harus menyadari dan menerima bahwa penderita juga seorang manusia dan berhak mendapatkan perlakuan yang sama selayaknya manusia pada umumnya.
·         Masayarakat juga dapat menumbuhkan sikap lebih peka terhadap anggota keluarganya. Apabila ada asalah satu anggota keluarga yang memiliki indikasi gejala gangguan mental, ada baiknya jika segera ditangani untuk mengantisipasi agar penderita tidak mengalami kondisi yang semakin buruk. Teknologi sudah semakin canggih, kita dapat mencari tahu mengenai gejala gangguan mental melalui internet. Salah satu bentuk kepedulian kita terhadap anggota keliarga adalah dengan mencari dan mengumpulkan informasi terkait dan membantu menyebarkannya ke orang-orang terdekat. Selain itu, menyediakan waktu untuk mendengarkan masalah anggota keluarga dapat meminimalisir agar tidak terjadi gangguan mental.
·         Menyadari bahwa kondisi gangguan metal sama pentngnya dengan kondisi ganguan fisik. Dalam hal ini, pemerintah dapat memberikan sosialisasi dan edukasi mengenai berbagai gangguan mental untuk mengurangi pandangan negative dan stereotip masyarakat terhadap penderita gangguan mental. Selain itu, pemerintah juga dapat memerhatikan fasilitas dan kualitas dalam penanganan terhdap penderita gangguan mental.
·         Adanya pendidikan karakter. Pendidikan karakter dapat diterapkan sejak dini, misalnya semenjak anak duduk di bangku SD. Tujuan pendidikan karakter sendiri adalah untuk menanamkan nilai dalam diri individu dan memperbarui tata kehidupan bersama yang lebih menghargai kebebasan individu. Dalam hal ini pendidikan karakter berperan penting dalam kesehatan mental. pendidikan karakter dapat dijadikan dasar agar individu  memiliki mental yang sehat dan kuat. Apabila pendidikan karakter yang tertanam dalam individu sangat kuat, maka dapat terbentuk individu yang kuat pula. begitu juga sebaliknya. Selain itu, karakter individu yang kuat juga tidak akan menilai penderita gangguan mental secara negatif karena penddikan karakter juga berfungsi dalam penanaman moral individu, sehingga apabila individu memiliki moral yan tinggi mereka tidak akan semudah itu memandang penderita ganggan mental dengan sebelah mata.