Psikologi
dan internet pada saat ini dapat di katakan memiliki keterkaitan yang cukup
erat. Perkembangan teknologi pada saat ini berkembang cukup pesat bersamaan
dengan pergerakan pola pikir dan kebutuhan akan tekhnologi. Dari sisi inilah
mulai muncul hubungan yang berkaitan erat. Psikologi adalah ilmu yang
mempelajari perilaku setiap manusia dari yang tampak maupun tidak nampak, dari
sisi fisik dan psikis. Internet adalah sebuah perkembangan yang dilahirkan oleh
kemajuan tekhologi. Keduanya seakan berjalan beriringan dan menjadikannya suatu
hal yang saat ini sulit untuk di pisahkan. Pengaruh yang ditimbulkan dari
perkembangan tekhnolgi yaitu khususnya internet sedikit banyak mengubah cara
dan pola perilaku yang dapat dilihat dan teliti dari segi ilmu psikologi.
Apakah internet dapat digunakan sebagai alat untuk eksplorasi diri?
Pertanyaan tersebut bukanlah tanpa alasan mengingat bahwa banyak situs yang
menampilkan berbagai test EQ maupun IQ. Selain itu teknologi dunia maya ini
memberikan banyak kesempatan kepada individu untuk mengekspresikan diri secara
unik. Namun demikian para Psikolog berpendapat, kalau seseorang gagal
mengintegrasikan antara diri sejati dengan diri yang diekspresikan secara
berbeda di internet, maka hal ini akan sangat berbahaya bagi pertumbuhan
pribadi orang tersebut.
Mengenai dampak internet sebagai alat explorasi diri, para Psikolog
memandang hal tersebut tergantung dari pribadi si penggunanya. Tentu internet
akan bermanfaat jika mampu meningkatkan kehidupan seseorang, dan sebaliknya menjadi
penyakit jika membuat kacau kehidupan orang tersebut. Pengaruh buruk akan
terjadi jika internet digunakan sebagai sarana untuk mengisolasi diri. Banyak
orang tidak sadar bahwa lama-kelamaan ia menutup diri terhadap komunikasi
sosial entah karena keasikan ngebrowse atau karena internet
dipakai sebagai pelarian dari masalah-masalah yang berhubungan dengan
kepribadiannya. Hal itu dapat terjadi karena ada individu yang menampilkan
kepribadian yang berbeda pada saat online dengan offline.
Dampak
positif terhadap psikologi yang mungkin didukung oleh adanya jejaring sosial
melalui internet adalah :
A.
Relationship building & Cultural Awareness. Situs jejaring sosial jaringan memungkinkan remaja untuk bertemu
teman baru dari Negara lain , membantu mereka menjadi lebih duniawi dan peka
terhadap perbedaan budaya. Para remaja juga dapat tetap berhubungan atau
membina hubungan kembali dengan teman-teman masa lalu mereka yang mungkin sudah
tinggal jauh dari lingkungan mereka.
B.
Identity. Para
remaja dapat berbagi minat dengan remaja lain, bergabung dengan kelompok,
mengembangkan rasa independent, dan bisa terlibat dalam ekspresi diri yang
positif dengan mempersonalisasi halaman profil dan berpartisipasi dalam diskusi
tentang topik-topik yang menarik perhatian mereka. Hal-hal tersebut sangat
dibutuhkan dalam membangun “sense of identity” dalam diri mereka.
C.
Self-Esteem. Berkaitan
dengan pembentukan identitas di atas, jaringan sosial dapat membantu membangun
harga diri dan meningkatkan kepercayaan diri.
D.
Pola interaksi antar manusia.
Kehadiran komputer pada kebanyakan rumah tangga golongan menengah ke atas telah
merubah pola interaksi keluarga. Komputer yang disambungkan dengan telpon telah
membuka peluang bagi siapa saja untuk berhubungan dengan dunia luar. Program
internet relay chatting (IRC), internet, dan e-mail telah membuat orang asyik
dengan kehidupannya sendiri. Selain itu tersedianya berbagai warung internet (
warnet) telah memberi peluang kepada banyak orang yang tidak memiliki komputer
dan saluran internet sendiri untuk berkomunikasi dengan orang lain melalui
internet. Kini semakin banyak orang yang menghabiskan waktunya sendirian dengan
komputer. Melalui program internet relay chatting (IRC) anak-anak bisa asyik
mengobrol dengan teman dan orang asing kapan saja.
Dampak
negatif terhadap psikologi yang mungkin didukung melalui internet adalah :
A.
Patologis. Beberapa penelitian mengungkapkan bahwa situs porno mendorong
terjadinya tindak kriminal dan perilaku seks menyimpang. Menurut
penelitian, situs porno memungkinkan user/netter untuk
melakukan berbagai komunikasi erotik melalui komputer mulai dari tingkatan yang
bersifat godaan atau lelucon porno, pencarian dan tukar-menukar informasi
mengenai pelayanan seksual sampai pada diskusi terbuka tentang perilaku seks menyimpang.
Selain itu komunikasi melalui internet seringkali digunakan untuk
mengeksploitasi pornography yang melibatkan anak-anak dan remaja serta alat
yang dipakai untuk menyamarkan identitas seksual seseorang dengan tujuan
tertentu.
Penelitian pertama yang menyelidiki kecanduan mengakses situs porno
dilakukan Bingham dan Piotrowski (1996). Hasil penelitian mereka yang tertuang
dalamPsychological Report berjudul On-line sexual
addiction: A contemporary enigmamengungkapkan 4 (empat) karakteristik yang
terdapat pada individu pecandu situs porno (addicted to cybersex).
Keempat karakteristik tersebut adalah:
· Ketrampilan
sosial yang tidak memadai
· Bergelut dengan
fantasi-fantasi yang bersifat seksual
· Berkomunikasi
dengan figur-figur ciptaan hasil imaginasinya sendiri
· Tidak mampu
mengendalikan diri untuk tidak mengakses situs porno
Sementara itu penelitian terhadap perilaku kompulsif dalam
mengakses situs porno terungkap bahwa perilaku tersebut didorong oleh
faktor-faktor seperti kesepian(loneliness), kurang percaya diri (lack
of self-esteem), dan kurangnya pengendalian diri terhadap masalah seksual (lack
of sexual self-control).
B.
Ekspresi Seksual. Berbeda
dengan pandangan yang menganggap bahwa situs porno mendorong terjadinya masalah
yang bersifat patologis, beberapa penulis justru melihat situs porno sebagai
tempat yang menyediakan berbagai informasi "supercepat" mengenai
masalah-masalah seksual dan sekaligus menawarkan cara-cara yang baru dan
tersembunyi (paling tidak user merasa tidak ada orang lain yang tahu) untuk
memuaskan keingintahuan seseorang dalam melakukan explorasi seksual. Keberadaan
situs porno dinilai dapat membantu pasangan yang mengalami masalah dalam
hubungan seksual karena menyediakna berbagai informasi yang terkadang
"enggan" untuk dibicarakan secara langsung oleh pasangan tersebut.
Menurut Leiblum (1997) dalam
Journal of Sex Education and Therapy
berjudul Sex and the net: Clinical implications, situs porno
merupakan sarana ekspresi seksual yang memiliki rentangan secara kontinum dari
sekedar rasa ingin tahu sampai pada perilaku obsesif. Bagi individu yang
memerlukan terapi seksual, media seksual
on-line seringkali dianggap dapat mengakomodasi
hal-hal yang berhubungan dengan
isolasi sosial dan ketidakbahagiaan dalam hidup. Lieblum membedakan 3 (tiga) karakter klinis
dari para pengakses situs porno. Ketiga profil tersebut adalah:
·
Loners,
dimana seseorang (user) menganggap bahwa situs porno dapat menjadi alat untuk
mengakomodasi masalah-masalah atau hal-hal yang tidak menyenangkan dalam hidup.
·
Partners,
dimana situs porno dianggap sebagai bagian dari pasangan hidup si user. Ketika
user mengalami masalah dia dapat mencari solusi melalui situs porno
·
Paraphilics,
dimana seseorang tergantung pada situs porno untuk memberikan stimulasi dan
kepuasan seksual.
Berdasarkan pandangan tersebut dapat disimpulkan bahwa jika
seseorang hanya menganggap bahwa situs porno sebagai alat untuk
mengakomodasikan masalah-masalah seksual saja maka ia tidak bisa digolongkan
sebagai seseorang yang memiliki masalah kejiwaan. Pada tahapan berikut di mana
pengguna menganggap situs porno sebagai
partner yang bisa digunakan sebagai sarana untuk mencari solusi atas
permasalahan yang dihadapinya, sebenarnya individu sudah memasuki titik yang
rawan untuk menuju ke tahapan berikutnya (Paraphilics), jika ia tidak mampu
mengendalikan diri dan tidak segera menyelesaikan masalah yang ada dengan
pasangannya. Sama halnya dengan beberapa
perilaku adiksi yang lain (misalnya perjudian, alkoholik), maka jika individu
sampai masuk ke tahapan ketiga maka dapat dipastikan bahwa ia memiliki masalah
kejiwaan yang menyangkut perilaku adiksi.
Dari uraian diatas dapat terlihat bahwa pengguna internet memiliki
berbagai tujuan dan alasan dalam mengakses situs porno. Apakah Anda akan
menggunakan situs tersebut untuk tujuan-tujuan yang positif demi kebahagiaan
hidup Anda dan pasangan Anda atau sebaliknya, semua terserah Anda. Berasumsi
bahwa semua pengakses internet memiliki masalah-masalah patologis tentu sangat
tidak adil. Namun demikian hal yang perlu diperhatikan adalah jangan sampai
situs porno merupakan "menu harian" dalam mengakses internet. Selain
itu bagi Anda yang sudah memiliki pasangan hidup jika mengalami masalah-masalah seksual
hendaklah membicarakannya dengan pasangan Anda terlebih dahulu.
Mengingat bahwa di Indonesia sampai saat ini belum ada aturan atau
tata cara yang mengatur penggunaan teknologi internet ini, maka kendali
sepenuhnya ada ditangan Anda. Situs porno yang sudah demikian marak dalam dunia
maya tersebut tidak mungkin lagi dapat diblokir atau dihindari seperti yang
pernah dilakukan oleh Departemen Penerangan beberapa tahun yang lalu.
C.
Kerahasiaan alat tes semakin terancam. Melalui internet kita dapat memperoleh informasi tentang tes
psikologi, dan bahkan dapat memperoleh layanan tes psikologi secara langsung
dari internet. Tes yang tersedia dalam internet yang pernah penulis buka antara
lain adalah tes asertifitas,locus of control, tes inteligensi emosional,
tes kecemasan. Kini semakin sulit untuk merahasiakan alat tes karena begitu
mudahnya berbagai tes diperoleh melalui internet. Program tes inteligensi
seperti tes Raven, Differential Aptitudes Test dapat diakses
melalui compact disk.. Implikasi dari permasalahan ini adalah, tes psikologi
yang ada akan mudah sekali bocor, dan pengembangan tes psikologi harus berpacu
dengan kecepatan pembocoran melalui internet tersebut
Tidak ada komentar:
Posting Komentar